Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 28 September 2009

Tak Mau Berjilbab, Alasan dan Jawaban


Seorang muslimah, diperintahkan untuk menutup auratnya ketika keluar rumah, yaitu dengan mengenakan pakaian syar'i yang dikenal dengan jilbab atau hijab. Namun dalam kenyataan masih banyak di antara para muslimah yang belum mau memakainya. Ada yang dilarang oleh orang tuanya, ada yang beralasan belum waktunya atau nanti setelah pergi haji dan segudang alasan yang lain. Nah apa jawaban untuk mereka?

1. Saya Belum Bisa Menerima Hijab

Untuk ukhti yang belum bisa menerima hijab maka perlu kita tanyakan, "Bukankah ukhti sungguh-sungguh dan yakin dalam memeluk Islam, dan bukankah ukhti telah mengucapkan la ilaha illallah Muhammad rasulullah dengan yakin? Yang berarti menerima apa saja yang diperintahkan Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Rasulullah? Jika ya maka sesungguhnya hijab adalah salah satu syari'at Islam yang harus dilaksanakan oleh para muslimah. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memerintah kan para mukminah untuk memakai hijab dan demikian pula Rassulullah Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan itu. Jika anda beriman kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, maka anda tentu akan dengan senang hati memakai hijab itu.

2. Saya Menerima Hijab, Namun Orang Tua Melarang.

Kalau saya tidak taat kepada orang tua, saya bisa masuk neraka. Kepada saudariku kita beritahukan bahwa memang benar orang tua memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia, dan kita diperintahkan untuk berbakti kepada mereka. Namun taat kepada orang tua dibolehkan dalam hal yang tidak mengandung maksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , sebagaimana dalam firman-Nya, artinya,

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya," (QS. Luqman:15)

Meskipun demikian kita tetap harus berbuat baik kepada kedua orang tua kita selama di dunia ini.

Inti permasalahannya adalah, bagaimana saudari taat kepada orang tua namun bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, padahal Allah Subhannahu wa Ta'ala adalah yang menciptakan anda, memberi nikmat, rizki, menghidupkan dan juga yang menciptakan kedua orang tua saudari?

3. Saya Tidak Punya Uang untuk Membeli Jilbab

Ada dua kemungkinan wanita muslimah yang mengucapkan seperti ini, yaitu mungkin dia berdusta dan mungkin juga dia jujur. Jika dalam kesehariannya dia mampu membeli berbagai macam pakaian dengan model yang beraneka ragam, mampu membeli perlengkapan ini dan itu, maka berarti dia telah bohong. Dia sebenarnya memang tidak berniat untuk membeli pakaian yang sesuai tuntunan syari'at. Padahal pakaian syar،¦i biasanya tidak semahal pakaian-pakaian model baru yang bertabarruj.

Maka apakah saudari tidak memilih pakaian yang seharusnya dikenakan oleh seorang wanita muslimah. Apakah anda tidak memilih sesuatu yang dapat menyelamatkan anda dari adzab Allah Subhannahu wa Ta'ala dan kemurkaan-Nya? Ketahuilah pula bahwa kemuliaan seseorang bukan pada model pakaiannya, namun pada takwanya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala . Dia telah berfirman, artinya,

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu." (QS. al-Hujurat:13)

Adapun jika memang anda seorang yang jujur, jika benar-benar saudari berniat untuk memakai jilbab maka Allah Subhannahu wa Ta'ala akan memberikan jalan keluar. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah mengatakan, artinya,

"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. ath-Thalaq 2-3)

Kesimpulannya adalah bahwa untuk mencapai keridhaan Allah dan untuk mendapatkan surga, maka segala sesuatu akan menjadi terasa ringan dan mudah.

4. Cuaca Sangat Panas

Jika saudari beralasan bahwa cuaca sangat panas, kalau memakai jilbab rasanya gerah, maka saudari hendaklah selalu mengingat firman Allah Subhannahu wa Ta'ala , artinya,

"Katakanlah, "Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jikalau mereka mengetahui."(QS. 9:81)

Apakah anda menginginkan sesuatu yang lebih panas lagi daripada panasnya dunia ini, dan bagaimana saudari menyejajarkan antara panasnya dunia dengan panasnya neraka? Yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala , artinya,

"Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah." (QS. 78:24-25)

Wahai saudariku, ketahuilah bahwa surga itu diliputi dengan berbagai kesusahan dan segala hal yang dibenci nafsu, sedangkan neraka dihiasi dengan segala yang disenangi hawa nafsu.

5. Khawatir Nanti Aku Lepas Jilbab Lagi

Ada seorang muslimah yang mengatakan, "Kalau aku pakai jilbab, aku khawatir nanti suatu saat melepasnya lagi." Saudariku, kalau seseorang berpikiran seperti anda, maka bisa-bisa dia meninggalkan seluruh atau sebagian ajaran agama ini. Bisa-bisa dia tidak mau shalat, tidak mau berpuasa karena khawatir nanti tidak bisa terus melakukannya.

Itu semua tidak lain merupakan godaan dan bisikan setan, maka hendaklah suadari mencari sebab-sebab yang dapat menjadikan anda selalu beristiqamah. Di antaranya dengan banyak berdo'a agar diberikan ketetapan hati di atas agama, bersabar dan melakukan shalat dengan khusyu'. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman, artinya,
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (QS. 2:45)

Jika saudari telah memegang teguh sebab-sebab hidayah dan telah merasakan manisnya iman maka saudari pasti tidak akan meninggalkan perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala , karena dengan melaksanakan itu anda akan merasa tentram dan nikmat.

6. Aku Takut Tidak Ada Yang Menikahiku

Saudariku! Sesungguhnya laki-laki yang mencari istri seorang wanita yang bertabarruj, membuka aurat dan senang melakukan berbagai kemaksiatan maka dia adalah laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu. Dia tidak cemburu terhadap yang diharamkan Allah Subhannahu wa Ta'ala, tidak cemburu terhadapmu, dan tidak akan membantumu dalam ketaatan, menuju surga serta menyelamatkanmu dari neraka.

Jadilah engkau wanita yang baik, insya Allah Subhannahu wa Ta'ala engkau mendapatkan suami yang baik pula. Engkau lihat berapa banyak wanita yang tidak berhijab, namun dia tidak menikah, dan engkau lihat berapa banyak wanita berjilbab yang telah menjadi seorang istri.

7. Kita Harus Bersyukur

"Oleh karena kecantikan merupakan nikmat dari Allah Subhannahu wa Ta'ala, maka kita harus bersyukur kepada-Nya, dengan memperlihatkan keindahan tubuh, rambut dan kecantikan kita." Mungkin ada di antara muslimah yang beralasan demikian.

Suadariku! Itu bukanlah bersyukur, karena bersyukur kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala bukan dengan cara melakukan kemaksiatan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman,

"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka." (QS. an-Nur:31)

Dalam firman-Nya yang lain,
"Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (QS.al-Ahzab:59)

Nikmat terbesar yang Allah Subhannahu wa Ta'ala berikan kepada kita adalah iman dan Islam, jika anda ingin bersyukur kepada Allah maka perlihatkanlah kesyukuran itu dengan sesuatu yang disenangi dan diperintahkan Allah Subhannahu wa Ta'ala, di antaranya adalah dengan mememakai hijab atau jilbab. Inilah syukur yang sebenarnya.

8.Belum Mendapatkan Hidayah

Ada sebagian muslimah yang mengatakan, "Saya tahu bahwa jilbab itu wajib, namun saya belum mendapatkan hidayah untuk memakainya." Kepada saudariku yang yang beralasan demikian kami katakan, "Bahwa hidayah itu ada sebabnya sebagaimana sakit itu akan sembuh dengan sebab pula. Orang akan kenyang juga dengan sebab, yakni makan. Kalau anda setiap hari meminta kepada Allah agar ditunjukkan ke jalan yang lurus, maka anda harus berusaha meraihnya.Di antaranya, hendaklah anda bergaul dengan wanita yang baik-baik, ini merupakan sarana yang sangat efektif, sehingga hidayah dapat anda raih dan terus-menerus terlimpah kepada ukhti.

9.Aku Takut Dikira Golongan Sesat

Ketahuilah saudariku! Bahwa dalam hidup ini hanya ada dua kelompok, hizbullah (kelompok Allah) dan hizbusy syaithan (kelompok syetan). Golongan Allah adalah mereka yang senantiasa menolong agama Allah Subhannahu wa Ta'ala, melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Sedangkan golongan setan sebaliknya selalu bermaksiat kepada Allah dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan ketika ukhti melakukan ketaatan, salah satunya adalah memakai hijab maka berarti ukhti telah menjadi golongan Allah ƒ¹, bukan kelompok sesat.

Sebaliknya mereka yang mengumbar aurat, bertabarruj, berpakaian mini dan yang semisal itu, merekalah yang sesat. Mereka telah terbius godaan syetan atau menjadi pengekor orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Maka berbahagialah anda sebagai kelompok Allah Subhannahu wa Ta'ala yang pasti menang.

Jilbab atau hijab adalah bentuk ibadah yang mulia, jangan sejajarkan itu dengan ocehan manusia rendahan. Dia disyari'atkan oleh Penciptamu, kalau engkau taat kepada manusia dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala maka sungguh engkau akan binasa dan merugi. Mengapa engkau mau diperbudak oleh mereka dan meninggalkan ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala Yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikanmu?

Sumber: Buletin Darul Qasim, " Wa man Yamna'uki minal hijab", Dr Huwaidan Ismail
www.alsofwah.or.id



Read More......

Ukhti, Jagalah Suaramu!.....!!!

Penulis: Ummu Aufa
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman (Pengajar Ma’had ‘Ilmi Putri)

Anugerah kecantikan yang Allah berikan kepada wanita dari berbagai sisinya dapat menimbulkan dampak kebaikan dan keburukan baik untuk dirinya sendiri atau lawan jenisnya. Bak mutiara indah yang senantiasa menebarkan kilauannya. Namun kilauan itu juga dapat menjadi ladang kemaksiatan jika tidak dijaga oleh pemiliknya seperti dicuri atau dirampas. Begitu pula keindahan dari seorang wanita akan mengundang keburukan jika tidak dijaga dengan baik. Keburukan yang akan timbul antara lain munculnya fitnah dari dalam dirinya. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rosululloh ShollAllahu ‘Alaihi Wa salam, bahwa Wanita adalah salah satu perhiasan dunia yang bisa menjadi FITNAH.

“Tidaklah ada fitnah sepeninggalanku yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki selain fitnah wanita. Dan sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah disebabkan oleh wanita.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim no 2740 [97])

“Hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama kali yang menimpa bani isroil disebabkan oleh wanita.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim no 2742 [99])

Segala keindahan yang terdapat dalam diri seorang wanita harus dijaga, bahkan hal yang dianggap remeh pun seperti “suara”. Tanpa pernah kita sadari, suara juga bisa mendatangkan fitnah, meskipun suara itu keluar bukan dimaksudkan secara khusus untuk melagukannya atau untuk menarik perhatian. Untuk itu Allah telah melarang kaum Hawa untuk berlemah lembut dalam berbicara dengan laki-laki agar tidak timbul keinginan orang yang didalam hatinya terdapat penyakit seperti firman-Nya:

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara dengan mendayu-dayu sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Al Ahzab: 32)

Saudariku, ayat ini turun untuk memperingatkan kita agar lebih berhati-hati dalam mengeluarkan suara kita. Allah juga melarang wanita untuk tidak berkata dengan lemah lembut dengan laki-laki yang bukan mahromnya, Peringatan itu pun semula Allah turunkan untuk Laki-laki di zaman Nabi yang kita tahu bahwa keimanan mereka lebih kuat dan akhlaknya lebih bagus daripada laki-laki di zaman sekarang.

Maka dari itu berbicaralah seperlunya saja dengan laki-laki yang bukan mahrom. Jika memang ada keperluan yang sangat darurat maka berbicara dibalik tabir itu lebih baik, seperti perintah Allah kepada kaum mukmin tatkala meminta sesuatu dengan wanita yang bukan mahrom dari balik tabir, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka (isteri-isteri nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al Ahzab: 53)

Wahai ukhti, jagalah suara kita agar tidak menjadi fitnah yang besar bagi kaum Adam. Semoga Allah mengampuni kita semua wahai saudariku dengan keindahan-keindahan yang mengandung fitnah ini. Janganlah kita berbangga hati dengan keindahan yang kita punyai karena sesungguhnya di balik keindahan tersebut terdapat ujian bagi kita. Wallahu a’lam bisshowab

Maraji’:
Fatwa-Fatwa Ulama, Nasihat ulama Besar untuk Wanita Muslimah

***
Artikel www.muslimah.or.id


Read More......

Dampak Buruk Campur Baur antara Laki-laki dan Perempuan

Termasuk sarana yang berbahaya adalah bercampur baurnya antara wanita dan laki-laki. Karena bercampur baurnya mereka merupakan sarana yang sangat efektif bagi terjerumusnya mereka ke dalam tindakan keji dan kotor. Alangkah banyaknya di zaman ini orang-orang yang menuntut dan mensosialisasikan ‘ikhtilath’ (campur baur) ini. Di mana mereka menyerukan bercampurnya antara laki-laki dan perempuan dalam segala bidang dan lapangan pekerjaan. Mereka mengaku bermaksud baik dan hendak membangun masyarakat, padahal:]


“Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”. (QS. Al-Baqarah: 12).

Ibnul Qayyim menjelaskan dampak negatif ikhtilath:

”Tidak diragukan lagi, bahwa kaum wanita yang membaurkan diri mereka dengan kaum laki-laki adalah akar dari berbagai macam bencana dan keburukan. Tindakan ini merupakan sebab utama datangnya siksa secara massal. Hal ini juga menjadi sebab rusaknya urusan orang-orang umum dan khusus.

Di samping itu juga menyebabkan kematian masal dan penyakit tha’un yang membinasakan. Ketika bercampur para pezina dengan tentara Musa ’alaihissalam dan tersebarlah perzinahan di tengah mereka, maka Allah mengirimkan penyakit tha’un lalu matilah tujuh puluh ribu orang dalam sehari. Kisah tentang hal ini telah populer disebutkan dalam kitab-kitab tafsir.

Sebab utama yang menyebabkan banyaknya kematian secara massal adalah ketika zina telah merajalela lantaran kaum wanita bercampur baur dengan laki-laki, dan berjalan di tengah-tengah mereka dengan bersolek dan berhias.” 1


Foote Note:
1. ath-Thuruq al-Hukmiyyah hal.259.


[Disalin dari buku ’Ubuudiyyatusy-Syahwaat, edisi Indonesia Pemburu Nikmat Sesaat, oleh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali bin Abdul Lathif, hal 33-35, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Umar Abdillah

Read More......

Terapi bagi yang Tergoda oleh Fitnah Wanita (Bagian 2)

Adapun yang ditutur oleh Ibnul Qayyim tentang metode membebaskan diri dari cengkeraman syahwat, kami memilih di antara solusi yang beliau tawarkan. Di antaranya beliau mengatakan:

”Hendaknya dia berpikir bahwa dirinya diciptakan bukan untuk menuruti hawa nafsu, akan tetapi diciptakan untuk suatu kenikmatan agung yang tidak akan dia dapatkan kecuali dengan mendurhakai hawa nafsu, seperti dikatakan:

”Engkau disiapkn untuk urusan yang besar jika engkau tahu
Maka jagalah dirimu jangan kau sia-siakan” 1


Hendaknya menanamkan kepada jiwa akan hinanya ketaatan kepada hawa nafsu. Karena tiada seorang pun yang mentaati hawa nafsunya kecuali akan mendapatkan kehinaan pada dirinya. Janganlah terpedaya oleh tampilan pengikut hawa nafsu dan kecongkakannya, karena sesungguhnya mereka adalah manusia yang paling hina. Mereka telah mengumpulkan dua keburukan, yakni kesombongan dan kehinaan. 2

Hendaknya dia mengetahui, apa pun yang dicampuri oleh hawa nafsu pasti akan rusak. Jika hawa nafsu mencampuri ilmu, maka akan mengarah kepada bid’ah dan kesesatan, sehingga ia menjadi penganut ahlul ahwa’. Jika hawa nafsu mencampuri sikap zuhud, maka ia akan menggiring pelakunya kepada riya’ dan menyelisihi sunnah. Jika hawa nafsu turut campur dalam masalah hukum, maka hasilnya adalah kezhaliman dan menghalangi kebenaran. Dan jika hawa nafsu turut campur dalam kekuasaan dan uzlah, maka akan menggiring pelakunya untuk khianat kepada Allah dan kaum muslimin karena dia akan memerintah dengan hawa nafsu dan uzlah karena hawa nafsu. 3

Sesungguhnya jihad memerangi hawa nafsu, jika ia tidak lebih agung dari jihad memerangi orang kafir, maka bukan jihad melawan hawa nafsu namanya. Seseorang berkata kepada al-Hasan al-Bashri Rahimahullah: ”Wahai Abu Sa’id, manakah jihad yang paling utama?” Beliau menjawab: ”Engkau memerangi hawa nafsumu”. Saya (Ibnul Qayyim) juga mendengar Syaikh kami Ibnu Taimiyah berkata: ”Jihad memerangi hawa nafsu adalah inti dari jihad memerangi orang kafir dan munafiqin, karena seseorang tidak akan mampu berjihad melawan mereka kecuali jika dia mampu memerangi hawa nafsunya terlebih dahulu, lalu dia berani keluar menghadapi mereka.” 4

Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu akan menutup hamba dari pintu taufiq, akan terbuka baginya pintu kehinaan. Maka Anda lihat dia akan berkilah, andai saja Allah memberikan taufiq (kepadanya) niscaya akan begini dan begini.., padahal dia telah menutup jalan taufiq atas dirinya dengan mengikuti hawa nafsunya. Al-Fudhail bin Iyadh berkata: ”Barangsiapa yang telah dikuasai oleh hawa nafsu dan mengikuti syahwat niscaya terputuslah jalan-jalan taufiq darinya.” 5

Sesungguhnya antara tauhid dan mengikuti hawa nafsu adalah dua hal yang saling kontradiksi, karena hawa nafsu adalah berhala. Setiap hamba bisa jadi memiliki berhala di hatinya sesuai dengan kadar hawa nafsunya. Sesungguh-Nya Allah mengutus para Rasul-Nya untuk menghancurkan berhala dan agar ibadah hanya ditujukan kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Maksud Allah bukan sekadar menghancurkan fisik patung sementara berhala yang bercokol di hati dibiarkan, bahkan yang dimaksud adalah menghancurkan berhala di dalam hati adalah prioritas utama. Perhatikanlah perkataan al-Khalil (Ibrahim) yang disitir oleh Allah:

”Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiyaa’: 52).

Betapa Anda mendapatkan keselarasan terhadap berhala yang diingini hati dan selalu dikelilingi serta dijadikan sesembahan selain Allah. 6

Sesungguhnya setiap hamba itu memiliki titik awal dan akhir perjalanan. Maka barangsiapa yang awalnya mengikuti hawa nafsu maka hasil akhirnya adalah kehinaan, kerendahan, terhalang dari kenikmatan dan musibah yang menyertainya sesuai dengan kadar keikutannya terhadap hawa nafsu. Bahkan pada gilirannya akan berakhir dengan azab, di mana dia akan diazab di hatinya. Sebagaimana perkataan penyair:

”Ketika hajat menjadi siksa di masa muda
Di hari tua tetap menjadi siksa baginya”.

Kalau Anda perhatikan kondisi buruk dan kehinaan yang menimpa seseorang, niscaya Anda melihat bahwa awal dari semua itu adalah mengikuti hawa nafsu dan lebih mendahulukannya daripada akal sehat. Dan barangsiapa yang awalnya menyelisihi hawa nafsu dan menuruti panggilan hidayah yang lurus, maka kesudahannya adalah kemuliaan, kehormatan, kecukupan, dan kemuliaan di sisi Allah dan di sisi manusia.

Telah dikatakan kepada al-Muhallib bin Abi Shafrah: “Dengan apa Anda mendapatkan semua ini?” Beliau menjawab: “Dengan menaati keyakinan dan menyelisihi hawa nafsu. Inilah awal dan akhir di dunia. Adapun di akhirat, sungguh Allah Subhanahu wata’ala telah menjadikan jannah sebagai akhir bagi orang yang menyelisihi hawa nafsunya, sedangkan neraka menjadi akhir bagi orang yang mengikuti hawa nafsunya.” 7

Secara umum, tidak ada penyakit melainkan ada obatnya, ada orang yang tahu, tapi ada juga orang yang bodoh. Khusus bagi yang terjangkit salah satu dari jenis syahwat tersebut hendaknya bersegera untuk mencari solusi dan sarana menuju keselamatan. Dengan tekad yang kuat, berusaha untuk bersabar, ketinggian tekad, menyibukkan diri dengan urusan-urusan yang penting dan menjauhi hal-hal yang tidak berguna. Hendaknya dia juga bermujahadah di jalan Allah Ta’ala, menahan hawa nafsunya, memperbaiki bisikan hati dan kemauannya, banyak bersahabat dengan orang-orang shalih, secara kontinyu tadharru’ (tunduk) kepada Allah Ta’ala dan menghinakan diri di hadapan Allah ‘Azza wajalla.


Foote Note:
1. Raudhatul Muhibbin: 472.
2. Ibid 483.
3. Ibid 474.
4. Ibid 478.
5. Ibid 479.
6. Ibid 481, 482.
7. Ibid hal. 483, 484.


[Disalin dari buku ’Ubuudiyyatusy-Syahwaat, edisi Indonesia Pemburu Nikmat Sesaat, oleh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali bin Abdul Lathif, hal 48-53, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Umar Abdillah].

Read More......

Terapi bagi yang Tergoda oleh Fitnah Wanita (Bagian 1)

Telah dipaparkan oleh Abul Faraj Ibnu al-Jauzi dalam Dzammul Hawa, juga Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Muhibbin yang membicarakan tentang terapi atas masing-masing penyakit dan penderitanya. Secara khusus Ibnul Jauzi menerangkan terapi untuk setiap fase dari masing-masing fase syahwat.

Maka untuk memandang yang diharamkan ada terapi tersendiri, untuk jenis campur baur laki-laki dan perempuan ada terapi tersendiri dan begitu seterusnya. Sedangkan Ibnul Qayyim telah memberikan formula sebanyak 50 metode terapi atas syahwat secara global dan umum.

Di antara yang dipaparkan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi tentang persoalan ini adalah:

“Ketahuilah bahwa penyakit ‘isyq (mabuk cinta) itu bertingkat-tingkat, maka sudah selayaknya menggunakan cara berbeda dalam memberikan terapi. Maka terapi bagi yang terjangkiti penyakit stadium awal tidak sama dengan terapi bagi yang telah mencapai tingkat kronis. Dan terapi hanya bisa dilakukan atas penyakit yang belum mencapai puncak klimaksnya, jika sudah mencapai klimaksnya ia menjadi gila, saat itulah sulit baginya unutk menerima terapi.” 1

Beliau juga berkata: “Sesungguhnya terus-terusan memandang (yang haram) akan menyebabkan terukirnya gambar yang dicintainya dalam hati dengan ukiran yang kuat. Adapun tandanya adalah: penuhnya isi hati dengan sesuatu yang dicintai, seakan dia melihatnya, seakan dia berkumpul bersamanya saat tidur, dan serasa bercengkerama bersamanya, padahal ia sedang sendirian. Ketahuilah bahwa sebabnya adalah ambisi untuk mendapatkan yang dia cari. Cukuplah ambisi ini dikatakan sebagai penyakit, amat jarang seseorang terjerumus ke dalam kefasikan tanpa disertai ambisi terhadapnya.

Sesungguhnya manusia tatkala melihat permaisuri raja, maka nafsunya hampir tak terpikat dengannya, karena dia merasa mustahil untuk mendapatkannya. Akan tetapi, barangsiapa yang berambisi terhadap sesuatu maka ambisi itu akan memotivasi dia untuk mendapatkannya, dia akan tersiksa ketika tak mendapatkannya.

Terapi bagi penyakit ini adalah dengan bertekad kuat untuk menjauhi objek yang digandrunginya, memastikan diri untuk menahan pandangan darinya dan menjauhkan ambisi terhadapnya, serta menanamkan rasa putus asa dalam hati untuk mendapatkannya.” 2

Beliau berkata pula: “Di antara langkah batin untuk mengobati adalah hendaknya dia berpikir jernih dan menyadari bahwa apa yang sebenarnya dimiliki oleh objek yang Anda gandrungi tidaklah seperti yang ada di benakmu, sibukkanlah pikiranmu untuk melihat sisi buruk yang Anda gandrungi. Karena manusia mengantongi najis dan kotoran, sedangkan orang yang gandrung terhadap seseorang biasanya melihatnya dengan pandangan sempurna.
Sementara hawa nafsu tidak menampakkan sisi kurangnya. Hakikat tidak akan tersingkap kecuali jika ditimbang dengan keadilan, sedangkan hawa nafsu yang bertahta adalah hakim culas yang menutupi aibnya, maka orang yang mabuk cinta memandang keburukan yang dimiliki oleh yang digandrunginya sebagai kebaikan.”

Untuk itulah Ibnu Mas’ud Radhiyallaahu’anhu berkata: ”Jika salah seorang di antara kalian terpesona oleh seorang wanita, maka ingat-ingatlah hal-hal yang busuk yang ada padanya.” 3


Foote Note:
1. Dzammul Hawa, 498.
2. Dzammul Hawa hal 501, 502 dengan sedikit diringkas. Lihat juga hal.537.
3. Dzammul Hawa hal 546, 547 dengan sedikit diringkas.


[Disalin dari buku ’Ubuudiyyatusy-Syahwaat, edisi Indonesia Pemburu Nikmat Sesaat, oleh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali bin Abdul Lathif, hal 45-48, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Umar Abdillah].


Read More......

Akibat Tergoda oleh Fitnah Wanita

Sesungguhnya ketika seseorang tergoda oleh wanita lalu terjerumus ke dalamnya, maka akan menyebabkan berbagai dampak negatif dan mafsadat bagi dunia dan akhiratnya.

Ibnu al-Jauzi mengisyaratkan berbagai dampak buruk tersebut dan berkata: “Ketahuilah bahwa dampak negatifnya berbagai macam, ada yang sifatnya segera dan ada pula yang tertunda, terkadang kasat mata, dan terkadang tersembunyi pula”.

Dampak paling berat dan berbahaya yang tidak dirasakan oleh penderita adalah berbaliknya iman dan ma’rifah. Selain itu kematian hati dan lenyapnya kelezatan munajat, bertambah kuatnya dorongan menuju dosa dan melalaikan al-Quran, meremehkan istighfar dan dampak lain yang membahayakan agamanya. Terkadang dampak tersebut merayap dengan pelan membawanya kepada kegelapan hingga menutup seluruh cakrawala hati, hingga bashirahnya menjadi buta.]

Dampak buruk yang paling ringan adalah berupa penyakit fisik yang menimpanya di dunia dan terkadang akibat buruk memandang akan dirasakan oleh mata. Maka barangsiapa yang menyadari telah terjerumus ke dalam dosa yang menimbulkan efek buruk, maka hendaklah bersegera menghindar dari dampak negatifnya dengan cara taubat yang tulus, mudah-mudahan dia akan terhindar. 1

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menuturkan perihal akibat menuruti syahwat yang diharamkan:

“Barangsiapa yang hatinya menghamba kepada kecantikan rupa yang diharamkan, baik wanita maupun anak muda, maka ini betul-betul merupakan adzab yang tak dapat dianggap remeh. Mereka adalah orang yang paling berat siksanya dan paling sedikit pahalanya. Karena orang yang tergila-gila kepada rupa di saat hati terkait erat dengannya sementara yang dituju jauh darinya, maka akan terkumpul berbagai macam keburukan dan kerusakan yang tak satu pun mampu mengukurnya selain Rabbul ’Ibad.

Di antara bencana yang timbul (karena syahwat terhadap wanita yang diharamkan) adalah berpalingnya hati dari Allah. Karena hati manakala telah mengenyam manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas untuk-Nya, niscaya dia tidak lagi merasakan sesuatu yang lebih nikmat, lebih lezat, dan lebih baik dari hal itu.” 2

Beliau juga berkata: ”Tidak diragukan lagi bahwa kesukaan terhadap tindakan zina adalah penyakit yang bercokol di hati. Syahwat akan menyebabkan seseorang menjadi mabuk, sebagaimana firman Allah tentang kaum Luth:

”Sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. (QS. Al-Hijr: 72).

Disebutkan dalam ash-Shahihain, dengan lafazh riwayat Muslim dari hadits Abu Hurairah dari Nabi Shalallahu ’alaihi wasallam beliau bersabda:
”Kedua mata bisa berzina, dan zinanya adalah dengan memandang”. (HR. Muslim).

Kebanyakan manusia menginginkan perbuatan yang tersebut dalam hadits ini, seperti melihat yang haram, onani, dan bercengkerama. Sebagian mereka dengan mudah menyentuh dan memegang (wanita bukan mahram). Sebagian lagi nekat mencium dan memelototinya. Semua itu diharamkan, karena Allah telah melarang kita menaruh belas kasihan kepada para pezina, bahkan memerintahkan kita untuk menegakkan sanksi, lantas bagaimana kita tidak tega dalam hal yang lebih ringan dari itu seperti mengucilkannya, memberikan terapi mental, mencegah atau mengatakan bahwa itu suatu keburukan dan yang semisalnya?

Bahkan sudah selayaknya untuk membenci orang-orang fasik yang menganggap enteng terhadap tindakan yang menuruti syahwat yang biasa dilakukan manusia seperti jenis zina yang disebutkan dalam hadits di atas dan yang lainnya.” 3


Foote Note:
1. Dzammul Hawa: 217.
2. Majmu’ al-Fataawa X / 187.
3. Majmu’ al-Fataawa XV / 288, 289.


[Disalin dari buku ’Ubuudiyyatusy-Syahwaat, edisi Indonesia Pemburu Nikmat Sesaat, oleh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali bin Abdul Lathif, hal 37-41, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Umar Abdillah

Read More......

Kisah Barshisha sang ahli Ibadah...(Trik-Trik Syaithan Dalam Menggoda Anak Manusia)

Ada seorang ahli ibadah (‘Abid) dari kalangan Bani Israil, yang merupakan ahli ibadah pada masanya.

Tersebutlah tiga bersaudara yang memiliki satu-satunya saudara perempuan yang masih perawan. Suatu ketika, ketiga orang ini ingin pergi ikut berjihad di jalan Allah namun mereka tidak tahu kepada siapa saudara perempuan mereka itu akan dititipkan dan mendapatkan tempat yang aman padahal orang tua mereka sudah meninggal dunia. Lalu bersepakatlah mereka untuk menitipkannya kepada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil tersebut sebab hanya dia yang mereka percayai.

Karena itu, mereka mendatangi orang tersebut dan memintanya agar bersedia menerima titipan saudara perempuan mereka tersebut sehingga ia bisa tinggal dulu di sampingnya hingga mereka pulang kembali dari perjalanan namun si ahli ibadah ini menolaknya dan berlindung kepada Allah dari mereka dan sikap mereka tersebut. Karena terus didesak dan mereka tetap ngotot, akhirnya dia pun bersedia menerima seraya berkata, “Tolong inapkan dia di sebuah rumah di dekat tempat ibadah yang khusus untukku.” Maka mereka pun membawanya ke tempat itu, kemudian berangkat dan meninggalkannya.

Wanita, saudara perempuan ketiga orang itu pun menginap di rumah sang ahli ibadah itu hingga beberapa masa. Selama itu, dia turun dari tempat ibadahnya (yang berada di atas dan berdampingan dengan rumah di mana wanita itu tinggal) untuk memberinya makan, memanggilnya, lalu wanita itu keluar untuk mengambil makanan yang diletakkannya di suatu tempat.

Maka, syaithan pun memainkan perannya; pertama-tama ia pura-pura peduli dengan si ahli ibadah ini dengan mensugestinya terus agar berbuat baik, akan tetapi ia menyayangkan keluarnya si wanita itu dari rumahnya pada siang hari dengan menakut-nakutinya bahwa cara seperti itu bisa saja dilihat seseorang lalu tertarik pada wanita itu. Dia lalu menganjurkan, “Andaikata kamu sendiri yang berjalan dan meletakkan makanannya di pintu rumah, tempat si wanita itu, tentulah pahalanya bagimu lebih besar.” Si Iblis terus menggodanya dengan hal itu hingga akhirnya, si ahli ibadah itu mengikutinya. Dia datang ke rumah, tempat wanita itu menginap, membawa makanan itu sendiri dan meletakkannya di depan pintunya namun tidak berbicara sepatah kata pun dengannya. Kondisi ini berjalan beberapa lama.

Kemudian Iblis itu datang lagi seraya mensugestinya untuk senantiasa berbuat kebaikan sehingga mendapatkan pahala. Dia berkata, “Andaikata kamu berbicara dengannya sehingga dia bisa merasa terhibur denganmu. Sebab ia tentu dicekam kesepian yang amat sangat.” Iblis terus menggodanya hingga akhirnya dia berani mengajak si wanita itu berbicara sekalipun sembari melihat dari tempat ibadahnya yang berada di bagian atas.

Setelah itu, Iblis mendatanginya lagi seraya berkata, “Andaikata kamu menghampirinya dengan duduk di pintu tempat ibadahmu seraya mengajaknya berbicara sementara ia juga duduk di pintu rumahnya sambil berbicara denganmu, tentulah ini lebih baik dan lebih membuatnya terhibur (tidak kesepian).” Iblis terus menggodanya hingga akhirnya dia pun turun dan duduk di pintu tempat ibadahnya sambil mengajak berbicara si wanita itu yang juga keluar dari rumahnya sambil duduk di pintunya guna meladeninya berbicara. Kondisi ini pun berjalan beberapa lama.

Kemudian Iblis itu datang lagi seraya tidak lupa mensugestinya untuk berbuat kebaikan dan meraih pahala terhadap apa yang dilakukannya. Ia bertutur, “Andaikata kamu keluar saja dari tempat ibadahmu itu, kemudian duduk di dekat pintu rumahnya lalu mengajaknya bicara tentulah akan lebih membuatnya merasa terhibur lagi dan akan lebih baik baginya.” Iblis terus menggodanya hingga akhirnya dia melakukannya juga. Kondisi itu pun berjalan beberapa lama.

Kemudian Iblis datang lagi sembari terus mensugestinya untuk berbuat kebaikan. Ia berkata, “Andaikata kamu mendekatinya dan duduk di samping pintu rumahnya lalu berbicara dengannya tetapi dia tidak usah keluar dari rumahnya, tentu lebih baik.” Maka dia pun melakukannya; turun dari tempat ibadahnya, berdiri di depan pintu si wanita itu lalu berbicara dengannya. Kondisi ini berjalan untuk beberapa waktu.

Setelah itu, Iblis datang lagi seraya berkata, “Andaikata kamu masuk bersama-sama dengannya lalu berbicara akan tetapi dia tidak usah menampakkan wajahnya kepada siapapun, tentulah lebih baik bagimu.” Iblis terus menggodanya hingga si ahli ibadah ini pun memasuki rumah si wanita lalu mengajaknya berbicara sepanjang siang hari itu dan begitu siang sudah habis, ia kembali naik ke tempat ibadahnya.

Keesokan harinya, Iblis datang lagi dan terus membuatnya terbayang-bayang dengan si wanita tersebut hingga akhirnya si ahli ibadah berani memegang pahanya dan menciumnya. Iblis terus memperdayanya dengan membuat hal demikian elok di hadapan matanya dan menggodanya hingga akhirnya dia berbuat zina dengan wanita itu dan menghamilinya. Wanita itu pun kemudian melahirkan anak dari hasil hubungan gelap mereka.

Tak berapa lama setelah itu, Iblis datang lagi seraya berkata kepada si ahli ibadah, “Menurutmu, apa yang dapat kamu perbuat bila saudara-saudara si wanita itu datang lalu mendapatinya telah melahirkan seorang anak? Tidak, Aku tidak dapat menjamin bahwa ia (wanita) tidak membuka rahasia terhadap aib itu atau pun mereka nantinya berhasil menyingkap aibmu. Karena itu, pergilah ke anak itu lalu goroklah dia dan kuburkan, pasti ia (wanita itu) tidak akan angkat bicara karena takut saudara-saudaranya akan berbuat kasar terhadapmu begitu mengetahui apa yang telah kamu lakukan terhadapnya.” Maka, si ahli ibadah ini pun menuruti saja bujukan Iblis itu dengan membunuh anak hasil hubungannya dengan wanita tersebut.

Kemudian Iblis berkata lagi, “Menurutmu, apakah ia (wanita itu) tidak akan angkat bicara kepada saudara-saudaranya mengenai perlakuanmu terhadapnya dan anaknya yang telah kamu bunuh? Tidak, karena itu, singkirkan dan goroklah dia lalu kuburkan bersama anaknya.” Iblis terus menggodanya hingga akhirnya ia pun menggorok wanita itu dan membuang kedua mayat itu ke dalam sebuah lubang, lalu menyumbatnya dengan batu besar kemudian tanahnya diratakan kembali. Setelah itu, ia naik ke tempat ibadahnya seraya terus melakukan ritual. Kondisi ini berlangsung beberapa lama hingga kemudian saudara-saudara wanita itu pulang dari berperang. Mereka datang seraya menanyakan keadaan saudara perempuan mereka. Namun, si ahli ibadah ini dengan mimik sedih menyampaikan bela sungkawanya kepada mereka atas kematiannya dan mendoakan semoga Allah merahmati arwahnya.

Mendengar kejadian itu, mereka berniat tinggal beberapa hari di kuburannya, untuk kemudian kembali menemui sanak saudara mereka.

Begitu malam tiba dan mereka sudah tertidur pulas, datanglah syaithan dalam mimpi mereka menyamar sebagai seorang laki-laki yang sedang bepergian. Lalu ia memulai pertanyaannya kepada kakak sulung dari tiga bersaudara tersebut mengenai kondisi saudara perempuan mereka. Maka si kakak sulung itu memberitahukan kepadanya seperti yang telah dikatakan si ahli ibadah itu mengenai kematiannya, bagaimana dia berbelasungkawa dan menunjukkan lokasi dikuburkannya saudara perempuan mereka tersebut, akan tetapi syaithan –yang menyamar tersebut- menyangkal ucapan si ahli ibadah dan menganggapnya telah berdusta, seraya berkata, “Ia tidak berbicara jujur pada kalian mengenai saudara perempuan kalian tersebut. Sebenarnya, dia telah menghamilinya lalu lahirlah seorang anak, kemudian si ahli ibadah itu menggoroknya dan anak itu karena takut kepada kalian, setelah itu, dia melempar keduanya ke dalam lubang yang digalinya di belakang pintu rumah tempat tinggal sudara wanita kalian itu, tepatnya di sebelah kanan orang yang masuk ke sana. Pergilah ke sana, lalu masuklah ke rumah itu, pasti kalian akan menemukan mayat keduanya sebagaimana yang telah aku beritahukan kepada kalian ini.”

Iblis kemudian mendatangi mimpi saudara nomor dua mereka dan mengatakan kepadanya persis seperti yang dikatakannya kepada kakak sulung mereka, kemudian ia datang lagi ke dalam mimpi si bungsu dan mengatakan hal yang sama.

Tatkala bangun, mereka tertegun-tegun terhadap apa yang masing-masing mereka lihat dalam mimpi. Akhirnya masing-masing bertemu dan berkata kepada saudaranya, “Semalam aku melihat sesuatu yang aneh di dalam mimpi.” Masing-masing saling menceritakan apa yang dilihatnya.

Maka, berkatalah si kakak sulung, “Ini hanyalah mimpi belaka, tidak akan ada apa-apa. Ayo kita berangkat dan anggap saja hal ini sebagai angin lalu.”

“Demi Allah, aku tidak akan berangkat hingga mendatangi tempat tersebut lalu melihat apa yang ada di dalamnya,” kata si bungsu.

Akhinrya, mereka semua menuju ke rumah di mana saudara perempuan mereka pernah tinggal tersebut. Mereka buka pintunya dan mencari lokasi seperti yang disebutkan di dalam mimpi mereka. Ternyata, mereka mendapati saudara perempuan mereka dan anaknya dalam kondisi tergorok di dalam sebuah lubang sebagaimana yang dikatakan kepada mereka dalam mimpi itu. Lalu mereka menanyakan kebenaran hal itu kepada si ahli ibadah, maka ia pun membenarkan apa yang dikatakan Iblis pada mereka di dalam mimpi itu berkenaan dengan apa yang telah diperbuatnya terhadap ke-dua orang tersebut (si wanita dan anaknya).

Mereka kemudian mengangkat perkara tersebut kepaada raja, menurunkannya dari tempat ibadahnya dan menghadirkannya untuk disalib. Tatkala mereka telah mengikatnya di atas kayu untuk dibunuh, datanglah Iblis menjumpai si ahli ibadah itu seraya berkata, “Aku lah temanmu yang tempo lalu telah mengujimu dengan wanita tersebut sehingga ia hamil dan anaknya engkau bunuh. Jika sekarang ini kamu mau patuh padaku dan kafir terhadap Allah Yang menciptakan serta membentukmu, aku akan menyelematkanmu dari kondisimu saat ini.” Maka, si ahli ibadah itupun menjadi kafir kepada Allah. Tatkala ia telah menyatakan kekafirannya, syaithan pun lari dan membiarkan urusannya dengan orang-orang diselesaikan sehingga mereka pun menyalibnya, lalu ia pun dibunuh.

Dan ayat yang berkenaan dengan kejadian ini sebagai permisalan adalah firman-Nya, “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaithan ketika dia berkata kepada manusia, ‘Kafirlah kamu.’ Maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim.” (Q.s.,al-Hasyr:16-17)

(SUMBER: Mi`ah Qishshah Wa Qishshah, Fii Aniis ash-Shaalihiin Wa Samiir al-Muttaqiin, karya Muhammad Amin al-Jundy, h.20-25


Read More......
Related Posts with Thumbnails